Bagi para introvert, ketenangan adalah surga. Setelah bertemu dengan banyak orang seharian, menjauh dari hiruk pikuk manusia dan segala kebisingannya menjadi tujuan utama ketika energi sudah sangat terkuras. Sebaliknya, hal itu tidak berlaku bagi para ekstrovert. Bahan bakar penyemangat mereka adalah euforia, bertemu teman, dan orang lain. Bahkan ketika pekerjaan menuntut mereka untuk bertemu orang baru setiap hari, itu bukan masalah besar. Biasanya, hal itu justru membuat mereka semangat.

Tidak semua individu beruntung bisa bekerja sesuai keinginan. Ada kalanya situasi tidak memungkinkan untuk terlalu pilih-pilih pekerjaan, tidak terkecuali para introvert. Di dunia di mana para ekstrovert mendapat peluang lebih baik, manusia introvert masa kini perlu bersedia menyesuaikan diri. Memang serba salah. Terkadang kondisi keuangan atau beban keluarga memperberat keputusan untuk mengejar impian yang prosesnya tentu saja tidak singkat dan penuh pengorbanan. Di sisi lain, ada hasrat untuk berhasil sesuai minat, bisa konsentrasi bekerja sendiri, bekerja dengan tenang tanpa gangguan rekan kerja yang mengajak bercengkerama, bergosip, hore-hore dan sebagainya.

Lalu bagaimana bagi para introvert yang sudah terlanjur memilih untuk bekerja tidak sesuai minat, apalagi dikelilingi banyak manusia ekstrovert? Tidak perlu rendah diri karena tidak pandai bersosialisasi. Kita punya nilai lebih ketika bergabung bersama mereka.

  • Penyeimbang. Tentu saja peran introvert penting dalam suatu kelompok. Bisa bayangkan andai semua orang dalam satu kantor hanya berisi ekstrovert? Siapa yang bicara duluan ketika berkumpul? Apakah mereka bisa saling bersabar mendengar rekannya mengoceh panjang lebar? Mungkinkah semua ektrovert bisa sabar untuk tidak perlu ada pembicaraan yang terpotong? Justru adanya introvert akan menyeimbangkan suasana. Mengapa? Karena introvert tersohor akan kemampuannya menjadi pendengar yang baik. Kalau semua menjadi sosok pembicara, lalu siapa yang mendengarkan?
  • Pengamat. Bukan hanya diam atau menimpali sesekali. Ketika mendengarkan lawan bicara, para introvert umumnya juga mengamati. Entah pikiran macam apa yang sudah teraduk-aduk di kepalanya ketika sedang mendengarkan. Yang jelas, bukan hanya telinga yang bekerja. Ketika sedang mendengarkan, pikiran dan hati ikut bekerja mengolah informasi yang keluar dari mulut lawan bicaranya.
  • Kemampuan adaptasi. Seorang introvert yang sudah cocok dengan seorang kawan ekstrovert akan nyaman saja menghabiskan waktu berlama-lama bersama. Tapi bagaimana kalau terlalu banyak ektrovert dalam satu kantor? Stress. Cepat lelah. Energi terkuras karena harus lebih banyak interaksi dengan rekan-rekan kerja bahkan mungkin konsumen. Rasanya ingin berada di dalam kotak dan konsentrasi bekerja? Wajar! Tapi ingat satu hal. Kita sedang belajar adaptasi. Seorang introvert mungkin tak akan bisa jadi sosok penghangat ruangan hingga semua orang tertawa mendengar lelucon kita. Paling tidak, kita jadi tahu saat yang tepat untuk diam dan kapan saatnya harus memberanikan diri angkat suara.
  • Penghasilan. Ini adalah alasan paling kuat mengapa seorang introvert bertahan dalam suatu pekerjaan. Terlebih lagi bila keadaan benar-benar kepepet. Tidak salah, kok. Kenapa? Pahami lah bahwa para makhluk ekstrovert belum tentu kuat bekerja dua belas bulan duduk diam di balik meja menghadap buku atau layar komputer tanpa banyak bertemu orang lain. Sebaliknya, ada si introvert sedang mencari nafkah. Harus bergaul luas dengan orang baru hampir setiap hari, tapi berani memutuskan untuk tetap menjalani pekerjaan tersebut. Itu hebat! Kamu hebat!

Tetap jaga hawa positif di dalam diri. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi suatu saat nanti. Siapa tahu pekerjaan kita saat ini adalah lompatan dan pelajaran berharga sebelum dipertemukan dengan kesempatan untuk meraih mimpi yang sesungguhnya.

Gambar oleh GraphicMama-team dari Pixabay

Written by

Soulvull

an introvert cloud walker