Welcome, beautiful souls!

Blog

10 Reasons Why Jealousy Must Gone

Pernah tahu Amon? Pernah dengar nama itu? Dia adalah salah satu dari tujuh pangeran neraka yang masing-masing membawa karakter gelap. Amon adalah salah satu pangeran neraka yang menciptakan rasa iri, dengki, cemburu dan amarah di hati manusia.

Rasa-rasa semacam iri dengki yang dibiarkan mengendap terlalu lama jelas bersifat destruktif. Ibarat kanker yang justru dipelihara, lama-kelamaan menyebar semakin membahayakan. Terlalu banyak contoh kasus kejahatan yang bermula dari rasa iri, bahkan ada yang sampai menimbulkan peperangan.

Mari mundur jauh ke masa-masa permulaan manusia menghuni bumi. Kisah Kain dan Habel yang merupakan keturunan pertama Adam dan Hawa dapat dijadikan contoh. Bumi belum penuh manusia, sedangkan Kain dan Habel adalah keturunan pertama Adam dan Hawa tapi sudah sampai terjadi pertumpahan darah … hanya karena rasa IRI. So terrible! Kain yang iri membunuh adiknya Habel karena persembahannya ditolak, sementara persembahan adiknya diterima. Andai rasa iri tersebut diolah dengan baik, bisa jadi lain cerita. Bisa saja Kain memilih untuk berusaha lebih baik agar persembahannya kelak diterima. Tak perlu sampai membunuh adik kandung sendiri. Jadi, amarah yang timbul dari rasa iri tersebut seharusnya bisa disalurkan menjadi bahan bakar untuk, “Saya harus lebih baik!” Bukannya membunuh.

Jangankan Kain dan Habel. Kalau kita rajin mengikuti kasus-kasus kriminal di media-media, tak sedikit kasus yang awalnya timbul dari rasa iri, contohnya seperti warisan. Tak jarang kan, dengar kisah keributan keluarga yang sampai terjadi pertumpahan darah … hanya karena iri dengan warisan saudara yang tampaknya lebih besar.

Judulnya tampak terlalu naif. Mana mungkin rasa iri, dengki, cemburu, amarah bisa hilang. Tentu saja tidak. Paling tidak, kita bisa meminimalisir atau mengolahnya supaya tidak keluar menjadi tindakan negatif. Lagipula, judulnya kan sengaja dibuat seperti itu supaya kamu-kamu jadi baca isinya. Hehee.

  • Rasa-rasa iri dan turunannya adalah energi negatif
  • Energi negatif yang tidak segera dihilangkan, dapat mempergelap aura.
  • Iri yang dibiarkan terlalu lama akan terakumulasi menjadi hawa panas yang siap meledak menjadi tindakan negatif.
  • Iri adalah rasa. Sesungguhnya tak merugikan karena tak nampak dan bercokol di dalam diri. Maka dari itu sebelum memburuk, segera salurkan menjadi bahan bakar semangat untuk memperbaiki diri. Bahasa kasarnya, pembalasan kepada diri sendiri, “Aku akan lebih baik!”
  • Iri yang terlanjur menimbulkan tindakan negatif, seperti mencelakai, tak hanya merugikan orang yang dicelakai, tapi juga pihak yang iri. Kenapa? Karena dia sedang menanam karma buruk yang akan dipetik di kemudian hari (ingat hukum tabur tuai, apa yang ditabur, itulah yang akan dia tuai di kemudian hari).
  • Buang waktu. Perhatian akan lebih tersedot pada orang yang kita anggap lebih baik. Timbul rasa penasaran dengan perkembangan terbarunya.
  • Sia-sia. Semua individu punya ‘mahkota’ sendiri-sendiri dan ‘mahkota’ kita beda-beda. Masing-masing individu punya kelebihan sendiri-sendiri. Berusaha menjadi orang lain adalah usaha yang sia-sia karena kita tak pernah bisa benar-benar menjadi SAMA dengan orang tersebut (bukankah anak kembar saja beda karakter).
  • Kehebatan diri kita terbengkalai. Saking sibuknya memperhatikan pribadi lain yang tampak lebih baik, jadi lupa mempertajam kelebihan diri sendiri.
  • Nambah musuh. Kebaikan yang dia lakukan selalu membuat kesal. Di mata orang iri, tak peduli betapapun baiknya sesuatu yang orang lain itu lakukan akan selalu dianggap salah, lebay, pencitraan, berlebihan, dll. Ini kalau rasa iri yang bersemayam di hati terlanjur berkarat.
  • Nambah dosa. Sok baik lah ini! Tapi bener kan? :))

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)