Pada suatu malam di negeri Aromatopia, negeri yang menjunjung tinggi aroma dan wewangian unik, seorang pesuruh memasang sebuah pengumuman kompetisi bergengsi yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Kompetisi pencarian aroma terbaru yang terbuka bagi seluruh warga negeri Aromatopia yang berusia 20 tahun ke atas. Kompetisi Parfum negeri Aromatopia ini diharapkan dapat menemukan aroma-aroma terbaru yang biasanya selalu terdapat keunikan di setiap pemenangnya.

Ini adalah kompetisi yang ditunggu-tunggu Kentut sejak remaja. Di usia yang telah memenuhi syarat ini, dia bertekat untuk ikut meski sepupunya mengingatkan untuk melupakan kompetisi itu.

“Stereotype! Kamu tau kan, kompetisi itu selalu dimenangkan oleh golongan Bunga atau kadang Buah. Selain itu, pasti kalah, kecuali dia adalah golongan lain keturunan ningrat negeri Aromatopia. Kalau kamu kan…” sepupunya menggantung kata-katanya.

“Bau!” Kentut menjawab dengan wajah kesal. “Tapi tahun lalu, kompetisi itu hampir dimenangkan golongan Darah. Kalau bukan karena Cendana yang dari golongan ningrat itu yang menyogok seorang dewan dari Kementerian Parfum, pemenangnya adalah dari golongan Darah,” terang Kentut menutup pembicaraan.

“Kamu semangat sekali ikut kompetisi itu!” seru sepupu Kentut. “Golongan Darah masih pantas untuk menang karena mereka berkarakter kuat.”

“Karena tak ada seorang pun dari golongan Kentut yang pernah memenangkan kompetisi ini sejak nenek moyang kita,” sahut Kentut.

“Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.”Terakhir kali kakek kita mengikuti kompetisi itu, tak ada lagi yang mau ikut. Sudahlah. Kita memang terlahir sebagai golongan Kentut, tapi aku bersyukur meskipun aku berisik, minimal aku tak bau,” jawab sepupunya itu.

“Karena aku punya bau, aku akan tetap mencoba. Kalau pun tak menang, aku akan coba lagi di kompetisi berikutnya,” sahut Kentut.

Sepupunya melirik Kentut pasrah, antara tak tega dengan cemoohan yang hampir bisa dipastikan akan diterima Kentut karena bau yang tak enak, campur kagum akan kegigihan sepupunya itu.

Gigih atau naif sebenarnya … Mana ada Parfum Kentut! Siapa juga yang mau memuja aromanya?

Written by

Lisa Ningtyas

just an introvert with the head in the clouds